Dari segi usia, terbentuknya perusahaan asuransi syariah masih belum memiliki sejarah yang panjang. Namun jika kita ikuti sejarah perkembangan asuransi syariah, tentu telah mengalami kemajuan yang cukup pesat hingga dapat menyaingi asuransi konvensional yang ada.

Hal ini tak lepas dari berubahnya perspektif masyarakat tentang pentingnya mengikuti aturan Islam di segala aspek kehidupan. Termasuk menolak segala bentuk riba (bunga/interest) yang sering terdapat di berbagai macam produk asuransi konvensional.

Baca Juga: Apa Itu Asuransi Syariah dan Perbedaanya dengan Asuransi Konvensional?

Jika dilihat dari akarnya, sejarah asuransi syariah bermula ketika pada tahun 200 Hijriah, banyak pengusaha muslim yang merintis sistem tafakul yaitu sebuah sistem pengumpulan dana antar sesama pengusaha muslim untuk menolong para pengusaha muslim lainnya yang sedang menderita kerugian (sharing of risk). Dan konsep inilah yang menjadi cikal bakal dari asuransi syariah.

Nah ketika sistem keuangan semakin berkembang, estafet sejarah asuransi syariah dengan konsep yang lebih modern dimulai dari bumi Sudan ketika terbentuknya perusahaan asuransi jiwa bernama Sudanese Islamic Insurance yang dikelola oleh Dar al-Mal al-Islami sejak tahun 1979.

Selanjutnya Dar al-Mal al-Islami mengembangkan pasar asuransi syariah ke beberapa negara Eropa dan Asia, setidaknya ada empat perusahaan asuransi syariah (dibawah naungan Dar al-Mal al-Islami) di tahun 1983 yaitu di Geneva, Bahamas, Luxembourg, dan Inggris.

Walaupun secara legalitas, sistem asuransi syariah baru mulai diakui oleh para ulama pada tahun 1985. Dimana Majelis Majma al-Fiqh al-Islami mengesahkan tafakul sebagai sistem yang sesuai dengan aturan syariah.

Perkembangan asuransi syariah pun semakin meningkat secara progresif di wilayah Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Misalnya di Arab Saudi, beberapa perusahaan asuransi syariah yang berdiri antara lain

  • Islamic Arab Insurance Company (1980)
  • Al-Aman co-Operative Insurance (1985)
  • Global Islamic Insurance co (1986)
  • Islamic Tafakul and Re-tafakul Company (1986)
  • Islamic Corporation for the Insurance of Investmen and Export Credit (1994)
  • Dan masih banyak lagi yang tak bisa kami sebutkan satu-satu

sejarah dan perkembangan asuransi syariahDi Afrika, Metropolitan Insurance Company Limited (MIT) merupakan perusahaan asuransi pertama yang didirikan di Ghana pada tahun 1994. Berdiri pula Tafakul Trinidad and Tobago Friendly Society yang didirikan di Trinidad dan Tobago pada tahun 1999. Lalu Islamic Life Insurance System didirikan oleh African Alliance Insurance Company Limited di Nigeria pada Oktober 2003.

Dan di Eropa, Inggris menjadi pelopor dan bercita-cita menjadi leading sector bagi perkembangan asuransi syariah khususnya di Eropa.

Melalui International Cooperative and Mutual Insurance Federation (ICMIF) yang menghimpung 150 orang dari 82 organisasi dan 52 negara di dunia, Inggris berusaha untuk memperkenalkan dan memajukan sistem asuransi syariah di berbagai negara.

Di Amerika pun, berdiri Tafakul USA Insurance Company pada Desember 1996. Dan berdiri pula Australia Tafakul Assosiation Inc di negeri kangguru.

Perkembangan asuransi syariah bisa dibilang cukup pesat. Dimana hingga kini, setidaknya terdapat 65 perusahaan asuransi syariah di dunia. Dari aset $550 juta pada tahun 2000, meningkat menjadi  $1,7 milyar, dan terus meningkat hingga $2 milyar pada tahun 2004.

Perkembangan Asuransi Syariah di Asia

sejarah asuransi syariah di asiaDi Asia sendiri, sejarah dan perkembangan asuransi syariah ditulis oleh negeri jiran. Hal ini karena perusahaan asuransi syariah pertama di Asia ternyata dipelopori oleh Tafakul Malaysia pada tahun 1985.

Setelah menjadi pelopor pertama di Asia, Malaysia pun mendirikan Lembaga Penelitian dan Pelatihan Bank Syariah (BIRTI) yang sekaligus juga turut membantu asuransi syariah makin eksis di Malaysia bahkan Asia.

Dengan dukungan BIRTI, Tafakul Malaysia menjalin kerjasama dengan Sri Lanka dan Arab Saudi. Ditambah lagi juga memberi dukungan teknis (technical assistance) kepada negara-negara lainnya yaitu Australia, Lebanon, Bangladesh, dan Algeria.

Malaysia dan Bank Pembangunan Islam (IDB) juga telah menandatangi kontrak kerjasama untuk memajukan industri asuransi berbasis syariah di negara-negara muslim, khususnya negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Sejarah dan Perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia

perkembangan asuransi syariah di indonesia
photo by Nusantaratv.com

Pada tanggal 24 Februari 1994 berdiri pula Tafakul Indonesia yang merupakan tonggak sejarah berdirinya asuransi syariah di Indonesia.

Munculnya Tafakul Indonesia sangat menunjukkan perkembangan yang positif. Perkembangan asuransi syariah ini sejalan dengan naiknya minat penggunaan layanan bank syariah di Indonesia.

Proses pendirian lembaga asuransi berbasis syariah di Indonesia dapat dilakukan melalui 4 langkah:

  1. Mendirikan lembaga/perusahaan baru
  2. Mengubah atau mengkonversi sistem perusahaan asuransi atau reasuransi konvensional ke bentuk syariah
  3. Mendirikan kantor cabang baru dengan prinsip syariah
  4. Mengubah atau mengkonversi kantor cabang konvensional menjadi kantor cabang yang menerapkan prinsip syariah

Asuransi syariah mulai berkembang begitu pesat khususnya pada tahun 2010-2011, di mana banyaknya pemilik modal yang mulai berani melakukan investasi di perusahaan asuransi syariah.

Memang jika kita membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain seperti di Eropa, Timur Tengah, dan tetangga kita Malaysia. Pertumbuhan dan perkembangan asuransi syariah di negara kita masih tergolong lambat.

Walaupun demikian, pada Kuartal 4 tahun 2014 pertumbuhan asuransi syariah dari sisi aset mencapai hingga lebih dari Rp22 triliun dan pada Kuartal 4 tahun 2015 mengalami peningkatan dimana pertumbuhan asuransi syariah mencapai lebih dari Rp26 triliun. yang artinya asuransi syariah mengalami peningkatan sebesar 18,58% dari sisi aset.

Dan setiap tahunnya asuransi syariah terus mengalami pertumbuhan yang terus meningkat, seperti yang dilansir dari catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia. Yaitu pada tahun 2017, tercatat sebanyak Rp37,30 triliun aset yang dimiliki industri asuransi syariah, dibanding pada tahun 2016 yang hanya Rp31,80 triliun. Yang berarti pertumbuhannya lebih tinggi 17,3% dari periode sebelumnya.

Sehingga walaupun masih tergolong lambat, masa depan asuransi syariah di Indonesia masih terbuka lebar untuk terus berkembang dan menyaingi asuransi konvensional yang ada.