Secara singkat, pengertian bank syariah adalah bank yang seluruh operasional dan pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam. Munculnya bank syariah, dikarenakan adanya larangan dalam ajaran Islam berupa bunga pinjaman (riba) yang sering terdapat pada sistem perbankan konvensional.

Baca Juga: Pengertian Asuransi Syariah dan Perbedaannya dengan Asuransi Konvensional

Hadirnya bank syariah di Indonesia pertama kali dipelopori oleh Bank Muamalat, diikuti dengan hadirnya bank syariah lainnya yang ternyata merupakan cabang-cabang dari bank konvensional.

Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli

pengertian bank syariah menurut para ahli
image by ramadan.sindonews.com

Sebelum melangkah lebih jauh, tentu nggak afdol tanpa adanya pendapat para pakar yang lebih ahli dalam permasalahan ini. Jadi, pengertian bank syariah menurut para ahli yakni

▶️ Menurut Muhammad (2005), “Bank Islam atau biasa disebut bank tanpa bunga adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam”

▶️ Menurut Edy Wibowo (2005), “Bank syariah atau Bank Islam adalah bank yang beroperasi Sesuai dengan prinsip prinsip syariah Islam”

▶️ Menurut Sutan Remi Shahdeiny (2007), “Bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah”

▶️ Menurut Sudarsono (2008), “Bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi di sesuaikan dengan prinsip prinsip syariah”

Selain itu, pengertian bank syariah menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah berbunyi “bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan menurut jenisnya terdiri dari Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah”

Didukung dengan pasal 1 ayat 12 “prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah”

Oleh sebab itu di Indonesia, bank syariah selain diawasi oleh OJK, seluruh kegiatan dan pengelolannya juga diawasi oleh Dewan Syariah Nasional yang dibentuk oleh MUI (DSN-MUI).

Sebenarnya antara bank syariah dan bank konvensional sama-sama mencari keuntungan dengan cara meminjamkan modal, menyimpan dana, membiayai kegiatan usaha, serta membuat produk-produk investasi dan asuransi.

Baca Juga: Sejarah Asuransi Syariah dan Perkembangannya di Dunia

Namun dalam sistem perbankan syariah, segala aktivitasnya harus berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Karena dalam prinsip-prinsip syariah melarang adanya unsur-unsur

  • Perdagangan/perniagaan barang-barang haram, seperti investasi pada usaha-usaha yang berkategori haram
  • Bunga (riba), seperti yang sering terdapat pada produk pinjaman konvensional
  • Maisir yaitu mencari keuntungan tanpa usaha yang hanya berdasarkan spekulasi
  • Gharar atau ketidakpastian

Dan juga berbeda dengan bank konvensional. Hubungan antara bank syariah dengan nasabahnya merupakan hubungan secara kemitraan, sedangkan hubungan bank konvensional dengan nasabahnya bersifat debitur-kreditur.

Prinsip Bank Syariah

pengertian bank syariahBicara tentang prinsip bank syariah. Ternyata dalam operasional dan pengelolaannya, perbankan syariah menggunakan 5 konsep dasar yang berdasarkan prinsip-prinsip syariah yaitu

  • Prinsip Simpanan atau Titipan yaitu bank syariah sebagai tempat penyimpan dana para nasabah dan mengelolanya (sesuai akad apa yang disepakati antara bank dengan nasabah)
  • Prinsip Bagi Hasil yaitu sistem pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana (perbankan syariah). Pembagian hasil usaha ini dapat dilakukan dengan penyimpan dana maupun penerima dana.
  • Prinsip Jual Beli yaitu bank syariah dapat menjual maupun membeli suatu barang sesuai akad-akad yang diperbolehkan hukum islam
  • Prinsip Sewa yaitu pemindahan hak guna atas barang melalui pembayaran upah sewa
  • Prinsip Jasa yaitu bank syariah dapat menawarkan layanan jasa selain layanan pembiayaan. Seperti garansi, inkasi, kliring, jasa transfer, surat gadai, dan lainnya.

Fungsi Bank Syariah

Bank syariah memiliki fungsi dan peranannya sendiri seperti yang tercantum dalam pembukaan standar akuntansi yang dikeluarkan oleh Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution (AAOIFI), dikutip oleh Sudarsono (2008:43), fungsi bank syariah antara lain

  • Manajer Investasi; dimana bank syariah menghimpun dana dan menginvestasikan dana tersebut sesuai prinsip syariah
  • Investor; yaitu bank syariah dapat menyalurkan dana yang dimiliki maupun dana nasabah (atas kesepakatannya) melalui kegiatan investasi dengan prinsip bagi hasil, jual beli, atau sewa.
  • Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran; kegiatan ini hampir sama dengan bank konvensional yaitu bank syariah juga menyediakan jasa keuangan, jasa non keuangan, dan jasa keagenan berdasarkan prinsip syariah
  • Pelaksanaan kegiatan sosial; sebagai lembaga yang beridentitas syariah, bank syariah juga berkewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola zakat, serta dana-dana sosial lainnya.

Tujuan Bank Syariah

pengertian bank syariahTujuan bank syariah bukan hanya semata-mata meminimalisir penggunaan riba dalam kehidupan bermasyarakat, tujuan bank syariah nyatanya lebih luas dibandingkan dengan bank konvensional. Beberapa tujuan bank syariah, antara lain

  1. Mengarahkan kegiatan ekonomi masyarakat untuk bermuamalat secara Islam dan terhindar dari praktik-praktik riba
  2. Menyelamatkan ketergantungan masyarakat dari bunga pinjama (riba) bank konvensional
  3. Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi melalui investasi, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara pemilik modal dan pihak yang membutuhkan dana
  4. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan membuka peluang usaha dan mengarahkannya kepada kegiatan usaha yang produktif, sehingga terciptanya kemandirian usaha
  5. Menanggulangi masalah kemiskinan dengan cara membina para nasabah seperti program pembinaan pengusaha produsen, program pembinaan pedagang perantara, program pembinaan konsumen, program pengembangan modal kerja, program pengembangan usaha bersama, dan sebagainya
  6. Menjaga stabilitas ekonomi dan moneter